Senin, 05 Maret 2012

YANG(TAK)TERLUPA #EPISODE 1


Gambar diambil dari sini

Kalau biasanya orang-orang melakukan perenungan di malam akhir tahun atas apa yang telah mereka lakukan dan resolusi apa yang akan dilakukan di tahun berikutnya, di awal Maret ini saya melakukan perenungan atas apa yang telah saya dapatkan dan saya lakukan selama ini. Perenungan yang didasari karena saya merasa hidup saya selama kurang lebih 21 tahun 6 bulan ini ‘biasa-biasa” saja, tidak ada yang terlalu istimewa untuk dibanggakan.
Selama perenungan ini, saya mengingat-ingat kembali semua yang telah terjadi. Dan sungguh saya SANGAT BERSYUKUR. Ternyata ada beberapa hal HEBAT (setidaknya menurut saya) telah mampir dalam kehidupan saya yang hampir saja terlupakan kalau saya tidak melakukan perenungan ini. Ingin tahu hal hebat apa sajakah itu??
Sabar... saya akan menceritakannya satu persatu. Tapi perlu diingat hal hebat yang saya alami belum tentu hebat juga menurut kalian...

Okay,, hal hebat yang pertama dimulai saat tahun 1993 (mungkin ada hal hebat yang saya alami sebelum tahun 1993 karena September 1990 saya sudah hadir di dunia ini tapi sungguh saya tidak tahu, saya tidak bisa menguak memori di bawah tahun 1993).
1993 (Masa Taman Kanak-Kanak)
Awal dari hal-hal hebat itu dimulai. Saya masuk sekolah (walaupun tak pantas disebut sekolah karena hanya main-main). Masuk sekolah sebelum genap 3 tahun bukankah itu hebat di masa saya? Yups, saya tahu di masa sekarang tidak bisa lagi disebut hebat karena sekarang ada program Pendidikan Anak Usia Dini.
1994 – 1995 (TK episode 2)
      Tahun sebelumnya saya ada di TK bareng kakak laki-laki saya, kali ini saya sendirian. Kakak saya masuk SD di tahun ini. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang berangkat diantar nenek dan ditungguin sampai pulang, saya berangkat terlalu pagi (jam 7 sudah sampai sekolah padahal pelajaran dimulai jam 9) karena dianter ayah-ibu yang akan berangkat kerja (beliau berdua mengajar di Sekolah Dasar). Tidak ada yang menunggui saya dan tidak ada yang menjemput saya saat pulang. Untuk anak seumuran saya waktu itu, ini hebat! Karena saya bisa belajar di dalam kelas tanpa ada seseorang yang menunggui dan mengawasi saya dari luar kelas, saya masih tetap bisa santai walaupun saya lupa mengerjakan tugas (ini mah dasar saya yang ndablek kali ya..), saya tidak menangis ketika tidak ada yang menjemput saya pulang, dengan santainya saya pulang jalan kaki bersama anak-anak lain (yang tentunya bareng orangtua mereka) dan sesekali nebeng temen yang dijemput dengan sepeda atau sepeda motor. Tidak semua anak 4 tahun bisa seperti saya bukan?? #bangga
      Masih di rentang tahun yang sama. Pertama kalinya saya jatuh cinta. Ya, saya jatuh cinta dengan sang ketua kelas. Oops, ralat! Saya tidak benar-benar yakin kalau dia ketua kelas yang saya tahu dia yang sering berperan sebagai pemimpin barisan sebelum masuk ruang kelas. Sekali kali saya bilang saya jatuh cinta pada pria kecil dengan sepeda oranye-nya. Tidak semua orang mampu mengingat cinta pertama mereka saat belum genap 5 tahun (atau malah mungkin belum mengenal cinta) sampai mereka beranjak dewasa kan?? Dan itu artinya saya HEBAT! Hahaha,,
1995-1996 (Kelas 1 SD)
    Yang awalnya oleh Ibu saya hanya didaftarkan sebagai “murid titipan” karena saya tidak mau mengulang masuk TK malah jadi “murid sungguhan”. Pertama mulai pelajaran, malah lari ke bangku belakang. Ke salah satu teman yang berusia jauh lebih tua untuk minta tolong dicarikan buku pelajaran yang sesuai. Sekilas info, semua buku catatan saya sampulnya sudah ditulisi nama mata pelajaran oleh ibu sehingga saya harus menggunakan buku yang tepat sesuai mata pelajaran yang diajarkan. Bodoh sekali, bukankah saya bisa sedikit memperhatikan materi yang diberikan dan membaca tulisan di sampul buku untuk mencari buku yang tepat?? Walau begitu saya toh HEBAT karena saya yang tidak bisa mencari buku yang tepat itu ditambah saya yang tidak menyilang huruf a, b, c atau d di lembar jawaban saat ujian melainkan menuliskan jawaban di depan nomor tetap dianggap pintar oleh guru saya dan mendapat ranking 5 di kelas. Hahaha,,
1996-1997 (Kelas 2)
     Masa-masa saya sering bolos sekolah. Seperti waktu TK, saya berangkat sekolah terlalu pagi (jam 7) padahal kelas 2 waktu itu masuk jam 9 atau 10 pagi (saya lupa, yang jelas setelah kelas 1 selesai pelajaran). Sambil nunggu saya nongkrong di belakang sekolah, jajan lontong tauco. Dan akhirnya karena bosan sudah di sekolah dari pagi, giliran waktunya masuk kelas saya malah pergi ke rumah tetangga saya dan minta diantarkan ke sekolah tempat ibu mengajar (yang ada di lain desa). Saat sekolah sudah selesai, saya malah balik buat maen sama teman-teman di halaman sekolah. Cerita punya cerita, guru kelas saya waktu itu seringkali pura-pura tidak melihat saya takut kalau-kalau saya malu terkonang bolos sekolah. Padahal mah saya santai-santai aja. Hahaha,,
Bolos bukan berarti saya ketinggalan materi yang diajarkan. Buktinya saya masih bisa ranking 2 di kelas dan mendapatkan nilai tertinggi untuk pelajaran Matematika (angka 9,5 di raport gitu loh...). #seyumbangga
1997-1998 (Kelas 3)
       Tidak ada yang terlalu istimewa di tahun ini selain untuk pertama kalinya saya mendapatkan ranking 1 di kelas. YAY!! Akhirnya... angka 1 itu nangkring di raport saya.
      Oh ya,, catatan buruk di tahun ini.. Saya ngompol di kelas. Ssstt.. Jangan bilang siapa-siapa ya... Hahaha,,
1998-1999 (Kelas 4)
     Nilai saya di awal Kelas 4 menurun drastis. Setelah di tahun sebelumnya mendapatkan ranking 1, cawu pertama di kelas 4 saya tidak mendapat ranking bahkan nilai saya sangat rendah. Saya yang sangat narsistik tidak merasa saya bodoh tapi (maap) malah merasa guru kelas saya yang terlalu bodoh karena tidak bisa melihat KEPINTARAN saya dan memberikan saya nilai yang rendah. Hahaha,,
    Saya tidak salah kok... Terbukti dengan guru saya yang juga dengan seenaknya memberikan label bodoh pada teman saya yang waktu itu anak baru pindahan dari Jakarta (tidak bisa berbahasa Jawa) hanya karena lama menjawab pertanyaan “berapa hasil dari perkalian 5 x 5?” Padahal teman saya itu bukan tidak tahu jawabannya tapi sedang berpikir bagaimana mengucapkannya dalam bahasa Jawa. Toh nyatanya setelah dibilang bodoh, teman saya meneriakkan jawabannya “SALAWE!” (Dua puluh lima dalam bahasa Jawa adalah Selawe).
   Dan satu lagi, kreatifitas saya tidak dihargai di tahun ini! Saya yang (hanya) menggambar dua buah lingkaran waktu pelajaran menggambar, dimarahi dan diminta menggambar ulang di rumah hanya karena beliau tidak memahami arti dari gambar saya dan terlalu gengsi untuk menanyakannya. Kalau sampai saat ini Ibu Guru belum tahu arti dari gambar saya saat itu, saya beri tahu sekarang! Kertas gambar yang putih polos saya imajinasikan sebagai tembok bercat putih dan dua buah lingkaran adalah dua buah lubang ventilasi yang ada di tembok, bu Guruku yang cantik...
    Saya hebat bukan? Imajinasi saya “sedikit” berbeda dari anak-anak yang lain yang hampir selalu menggambar dua gunung kembar dengan matahari menyembul di tengahnya ditambah jalan besar, sawah, burung terbang dan kadang ditambah rumah gubuk. Toh, akhirnya ketika disuruh menggambar ulang, saya bisa menggambarkan sesuatu yang berbeda juga, seekor kucing cantik yang saya tiru dari gambar sprei yang ada di rumah.
#Maap kalau saya terkesan terlalu kasar. Jujur saja akan ada sedikit luka yang membekas di hati anak-anak sampai ia beranjak dewasa ketika kreatifitasnya tidak dihargai. Dan itu yang saya rasakan.
1999-2000 (Kelas 5)
     Hm,, di kelas ini kembali biasa-biasa saja. Eh eh eh, tunggu dulu. Sekali lagi sedikit agak dikecewakan karena mendapati Guru Kelas yang sedikit kurang menghargai kreatifitas siswanya. Yah,, walaupun di kelas ini saya masih mendapatkan nilai-nilai yang bagus di raport dan masih ranking 1 di kelas.
    Kekecewaan saya dimulai dari Guru Kelas yang meminta saya menyebutkan 5 buah berawalan huruf P. Salah satu buah yang saya sebutkan yaitu buah Peach dan Guru saya langsung membelalakkan mata sambil berkata “Mana ada buah Peach? Kayak apa tuh buahnya?” Saya yang memang sangat kreatif (tetep narsis...) bisa menjelaskan dengan detail seperti apa buahnya lengkap dengan bentuk daunnya walaupun saya sendiri belum pernah melihat langsung buah Peach. Saya tahu nama buah ini dari stiker yang banyak dijual oleh pedagang keliling di depan sekolah waktu itu. Terima kasih Pak Pedagang Keliling karena dari stiker yang Anda jual, saya jadi sedikit lebih pintar dari Guru saya. Hahaha,,
1999-2000 (Kelas 6)
    Saya suka berada di kelas ini karena saya mendapat kepercayaan untuk menjadi Ketua Kelas yang dipilih secara demokratis. Saya dianggap “pintar” di kelas ini walaupun masih tetap mendapat nilai rendah untuk mata pelajaran IPS. Entah kenapa IPS bagi saya itu sulit...
    Saya diikutkan lomba gambar  dan lomba matematika tingkat kecamatan tapi tidak menang.
    Saya mendapatkan NEM tertinggi untuk SD saya. 39. Nilai tertinggi di SD saya tapi tidak, kalau dibandingkan dengan SD lain. Nilai yang membuat saya menangis saat pengumuman, bukan karena terharu menjadi yang tertinggi tapi karena tidak sesuai dengan target saya (di atas 40). Dan nilai ini membuat saya harus tampil membacakan pidato saat perpisahan. Mungkin istilah sebagai pidato siswa terbaik kali ya.. Hehehe,,
***
     Hmm,, itulah beberapa hal hebat dalam hidup saya dari TK sampai SD.
     Thanks God For Giving Me A Wonderfull Travel Life..
    Masih ada beberapa hal hebat lainnya saat saya SMP, SMA, Kuliah sampai sekarang. Tapi kalau saya ceritakan semuanya di sini sekarang, akan jadi cerita yang sangaaaatt panjang. So STOP dulu sampai di sini. Akan saya lanjutkan nanti... I promise.. Tapi kalian janji ya.. tidak akan bosan membaca cerita saya.. Hehehe,,
     Keep Reading and See You Next Time..

2 komentar:

Naya Elbetawi mengatakan...

ajigileee... masiih inget semua dari jaman TK *woww...amazing* :D

elo emang bener2 hebat dah *jempollll

Nana mengatakan...

Hahahaha...

Makasih teh belo.. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...