Rabu, 14 Maret 2012

OOPS, NYANGKUT !!

Gambar dari sini

CINTAKU TERSANGKUT NET

     “Sora, ayo makan dulu. Mama sudah masak nasi goreng sosis kesukaanmu lho,” suara Mama yang sedikit berteriak terdengar dari kamar.
    “Iya, Ma. Bentar lagi Sora turun,” jawabku dengan sedikit berteriak pula. Kenapa harus dengan sedikit berteriak? Karena aku berada di kamar yang terletak di lantai dua, sedangkan Mama di dapur yang ada di lantai satu. Jadi, untuk berkomunikasi satu sama lain butuh sedikit teriakan agar suara sampai kepada sasaran.

     Aku masih sibuk dengan tasku. Satu per satu peralatan badmintonku, aku masukkan dalam tas. Raket, handuk kecil, botol yang tentunya telah terisi air minum sudah menghuni ruang dalam tas. Terakhir, tidak lupa aku memasukkan bingkisan berisi baju batik berpasangan (cowok-cewek) yang telah aku bungkus rapi dengan kertas kado berwarna merah muda bergambar hati.
    Hampir lupa. Selembar kertas yang telah aku lipat berbentuk hati (yang tentu saja di dalamnya telah aku tulis dengan beberapa kata) segera masuk dalam tas. Hari ini akan aku ungkapkan perasaanku padanya. Kak Mana.
***
    Saat itu aku diberi tahu temanku, Dita bahwa pelatih bulutangkis cakep-cakep plus keren-keren. Aku yang saat itu bingung memilih ekskul yang harus ikuti, langsung mengiyakan untuk ikut klub bulutangkis karena penasaran dengan pernyataan Dita.
     Sekolahku memang mewajibkan setiap siswanya untuk memilih setidaknya satu di antara sepuluh ekskul yang ada. Ada pramuka, palang merah remaja, karya ilmiah, keagamaan, pecinta alam, seni musik, seni tari, media sekolah, teater dan olah raga. Olah raga sendiri ada taekwondo, karate, basket, renang, bulu tangkis, voli, sepak bola dan masih banyak lagi.
     Aku sebenarnya tidak begitu suka dengan kegiatan ekskul. Aku pikir lebih enak tidur di rumah, nonton televisi, membaca komik daripada harus bercapek-capek ria ikut kegiatan. Tapi, pandanganku itu berubah saat aku bergabung di klub bulutangkis. Ternyata asik juga berkumpul dengan teman-teman, berkeringat, dapat menghilangkan rasa penat dan stress karena tugas sekolah yang bejibun banyaknya.
   Apalagi ada seseorang yang selalu membuatku betah berlama-lama di lapangan bulutangkis. Ya, dialah Kak Mana. Dia yang membuatku semakin bersemangat berlatih bulutangkis. Aku yang awalnya paling malas berolah raga karena ogah keringetan justru jadi siswa paling rajin yang tidak pernah datang terlambat ke tempat latihan. Bahkan, aku mulai sadar kalau ternyata aku mempunyai sedikit bakat di bidang bulutangkis ini. Ini aku ketahui karena aku selalu mendapat pujian dari Kak Mana. Hehehe… Bukan hanya itu, aku juga terpilih sebagai unggulan kedua di klub bulutangkis sekolahku untuk mengikuti turnamen bulutangkis antar pelajar se Jawa Bali bulan Mei nanti.
***     
     Kak Mana. Dia bukan siswa SMA Harapan Bangsa, tempatku bersekolah. Dia mahasiswa Ekonomi Universitas Jingga yang kebetulan letaknya tidak jauh dari sekolahku. Pelatih ekskul bulutangkis sebagian besar memang anak-anak mahasiswa Universitas Jingga.
      Aulia Rizki Permana, nama lengkapnya. Ada sesuatu darinya yang mampu memikatku. Membuatku selalu merindukan saat-saat untuk bertemu kembali dengannya. Binar matanya menyejukkan seperti embun pagi yang menempel pada dedaunan. Senyumnya menghanyutkan seperti debur air pantai di sore hari. Ahay… aku selalu rindu dibuatnya.
***
      Hari ini, lima puluh hari setelah aku mengenal Kak Mana. Aku berniat dan bertekad menyatakan perasaanku pada Kak Mana seusai latihan nanti. Akhirnya, perasaan yang selama hampir dua bulan aku pendam sendiri ini akan tersampaikan.
    Selesai makan nasi goreng sosis buatan Mama, aku segera berangkat menuju tempat latihan. Selalu saja dengan Bang Doni. Bang Doni memang selalu mengantar dan menjemputku kemanapun aku pergi. Selalu. Perjalanan menuju lapangan hanya memakan waktu sekitar lima belas menit. Tapi, lima belas menit itu terasa begitu lama bagiku yang sudah tidak sabar ingin bertemu Kak Mana.
     Lapangan. Aku melihat sudah banyak teman-teman yang datang latihan. Sepertinya aku datang sedikit terlambat.
      “Hai, Sora! Baru datang?,” sapa Kak Very begitu melihatku datang.
       “Iya, Kak. Kak Mana, mana kak?” aku balik bertanya.
      “Tuh, ada di sana. Lagi briefing sama anak-anak yang lain. Buruan kamu gabung ke sana,” jawab Kak Very sambil menunjukkan ke arah teman-teman klub bulutangkis berkumpul.
     Briefing selesai. Waktunya bermain di lapangan. Aku mendapat giliran pertama. Melawan Vitria, pemain tunggal putri lapis utama klub ini yang akan turun di turnamen bulutangkis antar pelajar se Jawa-Bali. Aku berada satu level di bawahnya. Belum pernah satu kali pun aku mampu mengalahkan Vitria dari enam kali aku melawannya.
     Set pertama, aku kalah tipis dengan skor 16-21. Tapi, di set kedua aku berhasil unggul darinya dengan skor ketat, 21-18 dan itu menyebabkan set tambahan. Dan sekarang rubber set, set 3. Aku ketinggalan empat poin, 7-11. Seperti biasa ketika ada salah satu pemain mencapai angka sebelas, ada sedikit waktu istirahat untuk sekedar mengelap keringat atau meneguk air.
     “Wah, permainanmu semakin bagus Sora. Mainnya juga bersemangat. Bisa mengimbangi permainan Vitria. Kalau begini, turnamen kali ini kita bisa borong piala nih,” Kak Mana memuji atau menyindirku karena selama ini aku selalu kalah dari Vitria. Ah, aku nggak peduli. Yang penting dapet pujian dari Kak Mana. Hehe,,
    “Eh iya, Kak. Turnamennya kan tinggal dua minggu lagi jadi ya harus semangat lah, kak. Jangan sampai malu-maluin pas di turnamen nanti. Hehehe,” jawabku. Padahal dalam hati, berkata, Aku akan selalu bersemangat karena ada Kak Mana yang selalu menemaniku saat latihan. Dan hari ini akan menjadi hari yang bersejarah karena aku akan mengungkapkan perasaanku pada Kakak. Semoga Kak Mana juga mempunyai perasaan yang sama denganku. Aku harap.
      Permainan dimulai lagi. Skor kembali ketat 21-20. Terjadi rally panjang, bola-bola smash dari Vitria selalu berhasil kembalikan.
       “Rizki! Ditunggu istrimu tuh di depan! Cieciee.. pengantin baru. Ditinggal latihan bentar aja udah kangen. Sampai nyusul ke tempat latihan segala,” Kak Very memang biasa memanggil Kak Mana dengan nama tengahnya.
      Istri? Pengantin baru?  Aku tak bisa fokus pada permainan lagi. Dan, bola tanggung pengembalian Vitria yang seharusnya aku smash, hanya bisa aku pukul dengan lemah. Dan akhirnya, tersangkut di net. Jatuh di bidang permainanku sendiri. 22-20. Kemenangan di tangan Vitria. Lagi-lagi aku kalah.
***      
“Lho, Sora? Kok udah siap-siap mau pulang? Nggak nglihat yang lain latihan dulu?” tanya Kak Very begitu melihatku membereskan semua peralatanku dan memasukkannya ke dalam tas.
“Eh, iya kak. Ada tugas sekolah yang harus aku selesaikan, Kak. Mau dikumpulin besok,” terpaksa aku berbohong.
“Eh, tadi siapa Kak? Yang nyari Kak Mana? Cantik ya?” tanyaku penasaran. Sambil berharap bahwa yang pendengaranku tadi salah. Bukan istri Kak Mana tapi temannya.
“Oh, itu tadi istrinya Rizki. Iya cantik, cocok banget mereka berdua. Yang satu cakep dan satunya cantik!”
“Hah, Istri?? Kak Mana sudah punya istri? Bukannya Kak Mana masih kuliah, Kak?”
“Lho, memangnya kalau kuliah nggak boleh punya istri? Masa kamu nggak tahu? Sudah dua minggu ini Rizki nggak datang latihan. Itu karena dia nyiapin acara pernikahannya. Kedua orang tua mereka sudah menyetujui hubungan mereka. Terus Rizki kan juga sudah punya penghasilan sendiri dari bisnis laundrynya jadi daripada pacaran terus nanti malah zina mendingan nikah aja,” Kak Very menjelaskan panjang lebar. Dalam hati aku pengin berteriak. Stop! Jangan lanjutin lagi! Aku nggak mau denger itu semua!Oh God, ternyata orang yang aku cintai sudah punya istri.
“Kak, aku pulang dulu ya,” aku sudah tak tahan berada di lapangan. Air mataku hampir tumpah. Sebelum lapangan menjadi banjir air mata karena tangisku, aku segera cabut.
“Sora, mau kemana? Latihannya kan belum selesai?,” tanya Kak Mana begitu melihatku keluar lapangan dengan terburu-buru.
“E…e… aku sakit perut, Kak,” lagi-lagi aku berbohong.
“Oh, iya ini buat Kak Mana. Anggap saja kado pernikahan aku buat Kakak,” aku menyerahkan bingkisan yang sudah aku siapkan untuk Kak Mana. Aaargh! Seharusnya bukan seperti ini. Baju pasangan yang ada di dalam bingkisan sebenarnya aku siapkan untuk aku dan Kak Mana. Tak apalah.
Untung saja, surat berbentuk hati yang berisi curahan hatiku untuk Kak Mana tidak aku taruh di dalam bingkisan. Bisa gawat nanti!
“Terima kasih, Sora. O iya, kenalin. Ini Niken, istri kakak. Maaf ya, kami saat itu nggak mengundang. Karena acara pernikahannya memang untuk keluarga dekat saja.”
“Oh, nggak apa kok, Kak. Senang berkenalan dengan kakak,” aku mengulurkan tangan menjabat tangan Kak Niken, istri dari orang aku sayangi.
Aku pamit pulang. Aku sudah tak tahan lagi berada di antara dua insan yang penuh gelora asmara yang dirasakan pengantin baru. Aku menghembuskan napas untuk mengusir nyeri di dada.
Aku mengambil HP dari dalam tas.
“Bang Doni, jemput Sora sekarang!”
Tak lama kemudian, mobil Avanza yang dikendarai Bang Doni sudah di depan lapangan. Aku langsung masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan pulang, aku tidak mampu menahan air mataku yang jatuh satu per satu menmbasahi pipiku.
“Sora? Kok nangis?” tanya Bang Doni. Mungkin Bang Doni melihat dari kaca mobil.
“Mm, nggak kok Bang. Kelilipan. Tadi ada debu yang nyantol di mata Sora,” kebohongan yang ketiga untuk hari ini.
Beberapa menit kemudian, aku merasa sudah bisa mengendalikan emosiku. Aku merasakan seperti ada seseorang yang membisikkan sesuatu ke telingaku. Tapi tak jelas apa. Yang jelas, itu membuatku menjadi kembali bersemangat.
Cintaku saat ini mungkin seperti shuttlecock terakhir dalam permainanku tadi, yang aku pukul dengan lemah. Tersangkut di net. Tidak sampai tujuan. Tapi, aku nggak boleh menjadi shuttlecock yang pasrah jatuh semakin ke bawah. Tidak punya semangat. Tidak berdaya. Aku harus menjadi bola tenis yang mampu memantul setelah ia terjatuh.
Kak mana mungkin memang bukan jodohku. Tapi, aku yakin Tuhan telah menyiapkan pria terbaik sebagai pasangan hidupku, untuk mendampingiku di saat suka dan duka. Dan suatu saat nanti aku akan bertemu dengannya. Sesuatu yang baik untuk orang yang baik dan datang pada saat yang baik pula. Aku yakin itu. Sangat yakin.

Cerpen culun saat masih unyu..
3 years  ago...

2 komentar:

LorenZoo mengatakan...

Akhirnyaaaaaaaaaa dikeluarin jg cerpen ini.
Pokoknya aku akan selalu menunggu karya2mu yg lain.

Cintaku nyangkut di net nih nggak sekedar judul.

Nana Ashalina mengatakan...

Hahahaha..

jadi inget komentar Cindi waktu itu.. Ngakak deh...

:D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...