Selasa, 27 Mei 2014

UNTUKMU YANG MENYELINAP DIAM-DIAM

Picture from wallcoo.net
Dear You,
Tak pernah kusangka akan ada kamu yang menghapus namanya dari sudut hatiku. Kamu yang lebih berani berterus terang. Kamu yang lebih berani mengungkapkan rasa sayang tanpa kepura-puraan. Lebih berani memperjuangkan dan bertahan di tempat hingga aku menyerah untuk mengakui bahwa aku memiliki rasa yang sama denganmu.

Semuanya tak pernah terencana di awal pertemuanku denganmu. Tiba-tiba kamu sudah menyelinap dalam sudut hatiku. Sulit untuk kuusir. Meski awalnya kamu harus rela berbagi tempat dengan sebuah nama yang telah singgah lebih dulu di sana.


Kamu ingat? Waktu itu, pertama kalinya aku masuk di kelasmu. Menggantikan dosen senior yang kebetulan juga dosenku saat kuliah. Sebagai dosen muda, masuk kelasmu -yang sebagian besar sebaya denganku dan sebagian lagi berusia di atasku- saat itu serupa uji nyali. Untungnya semua aman terkendali. Keluar kelas ada seseorang yang membuntuti sampai anak tangga. Ya, kamu. Kamu mengikutiku sampai anak tangga. Menanyakan kebenaran informasi bahwa aku lahir di tahun yang sama denganmu.

Tak ada kesan istimewa di pertemuan awal. Hmm,, dan aku lupa kapan pertama kali kamu mulai menyusupi celah hatiku. Mungkin satu semester setelahnya, saat aku mendapat jatah mengajar mata kuliah dengan kamu sebagai penanggung jawab mata kuliah itu. Tugasmu yang harus menghubungi dosen pengajar mungkin yang menjadikan intensitas komunikasiku denganmu meningkat. Kamu satu-satunya mahasiswa yang berani melanggar peraturan yang telah kubuat dan disepakati bersama di dalam kelas, bahwa boleh menghubungiku setiap saat dengan catatan lewat sms bukan telepon. Kamu memang bandel. Selalu meneleponku.

Sejujurnya obrolan malam di rumah sakitlah yang menyadarkanku bahwa aku menyimpan rasa untukmu. Rasa yang kututup-tutupi karena kupikir tak pantas untukmu.

Anak kecil itu telah berhasil mengupas sisiku dan sisimu. Mengatakan bahwa aku dan kamu sama-sama dalam persimpangan. Membicarakan aku ataupun kamu -menurutnya- adalah sama karena aku dan kamu memiliki lubang penghubung. Berbicara tentang aku pasti akan ada kamu di sana. Begitupun sebaliknya.

Entahlah. Aku tak terlalu paham lubang penghubung apa yang dimaksud. Tapi sungguh, saat itu aku merasa ditelanjangi di depanmu.

1 komentar:

Amanda Martadinata mengatakan...

Awww! Sweet! Mbak ngajar di mana? Kereeeen bisa jadi dosen muda :3

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...