Rabu, 17 April 2013

CURAHAN HATI AIR LANGIT













Aku selalu dirundung dilema
saat mendapat titah dari Sang Maha
untuk turun menapaki tangga langit
menuju istana mereka yang menamakanku
hujan.


Mereka berduka saat aku terlalu lambat
telat menyapa tanah ladang
ataupun sawah, hingga
padi dan lainnya menguning kering
gagal memenuhi harapan mereka
untuk panen.


Ketika aku datang terlalu sering,
mereka bersungut.
Aku dipersalahkan sebagai sebab
baju seragam yang tak kunjung kering,
telat  datang atau pulang kantor
karena jalanan basah dan macet.
Lebih-lebih
jika tak ada lagi sungai dan tanah
yang mampu menampung banyaknya rombonganku,
si prajurit air langit.


Rombonganku yang terlalu besar
atau sungai-sungai telah menyempit
tergilas roda industri mereka?


Ah,
sungguh aku dilema.

Semarang, April 2013.

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...